Tampilkan postingan dengan label Fotomania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotomania. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

Foto Lebih Dinamis dengan Beragam Adegan di Satu Frame

Foto Lebih Dinamis dengan Beragam Adegan di Satu Frame

Foto Lebih Dinamis dengan Beragam Adegan di Satu Frame

Jakarta - Untuk membuat foto terlihat dinamis, banyak trik dilakukan. Biasanya dengan permainan foreground-background atau mengeksplorasi cahaya/bayangan. Tetapi jika sudah mentok, maka ada trik lain yang bisa digali: menjepret 2, 3, atau 4 adegan sekaligus dalam satu frame. 

Foto dengan berbagai adegan dalam satu frame dapat diperoleh karena kebetulan atau memang sengaja mencari momen yang tepat. Tujuannya untuk membuat ruang cerita lebih mendalam. Apalagi kalau antar adegan itu saling mendukung point of interest (PoI), maka foto yang dihasilkan dapat saling bersahut-sahutan dan penuh irama yang enak untuk dinikmati.

Terdengar rumit? Pada awalnya mungkin iya. Namun bila sudah terbiasa, membuat foto dengan berbagai adegan dalam satu frame bisa dihasilkan dengan mudah. Berikut tips dan trik yang bisa dilakukan untuk membuat foto-foto dinamis seperti itu.

Pertama, mulai dengan yang sederhana. Yakni membuat 'adegan' pertama yang statis/tidak bergerak sebagai patokan. Kemudian tunggu adegan kedua dengan jeli dan sabar. Pada momen yang tepat, pencet shutter dengan cerdik sehingga menghasilkan adegan yang saling membangun cerita.

Misalkan 'adegan pertama' itu berupa papan iklan atau manekin toko. Kemudian tunggulah momen 'adegan kedua' seperti pejalan kaki melintas atau pekerja membersihkan papan iklan tersebut. Anda bisa menambahkan sendiri contoh seperti ini dengan bebas dan imajinatif.

Kedua, temukan spot dengan aktivitas beragam namun relatif homogen seperti di halte bus atau subway. Di tempat tersebut sering dijumpai berbagai macam cara membunuh waktu saat menunggu tranposrtasi publik. Ada yang mendengar musik lewat earphone, bermain game/gadget, menelpon atau saling berbicara antar teman. 

Berbagai adegan itu bisa dibingkai dalam satu frame yang saling membangun cerita soal 'menunggu'. Bisa fokus kepada ekpresi (medium close up) ataukah bermain gesture/bahasa tubuh soal penantian bus atau kereta bawah tanah. 

Ketiga, cobalah memahami kebiasaan kerumunan yang menawarkan adegan beragam dalam satu momen bersamaan. Kemudian buat pola interaksi dalam kerumunan tersebut sebagai patokan untuk mendapatkan timing yang tepat memencet shutter. 

Contohnya bisa ditemukan di resepsi perkawinan (wedding photography), di jalanan (streetphotography) atau saat karnaval dan keramaian di pasar (people/culture photography). Meskipun terlihat sangat berantakan, sejatinya keramaian tersebut bisa disederhanakan dalam pola dan adegan tertentu. 

Seperti di Pasar Ubud dalam artikel ini, adegan transaksi, negosiasi dan mengemas barang merupakan pola berulang. Dari membuka lapak sampai tutup pasar, adegan melayani pembeli atau menata barang jualan selalu berulang dalam ritme yang hampir mirip. Tinggal mencari komposisi yang tepat maka siapa saja mampu merekam adegan pasar dengan dinamis dan enerjik. Bisa bergaya candid, portrait atau reportase. 

Kalau masih kurang puas, tambahkan sedikit unsur artistik, permainan warna, bereksperimen dengan grafis atau apapun yang membuat foto lebih hidup. Selebihnya, biarkan naluri fotografi menuntun telunjuk Anda memencet shutter dengan caranya sendiri -- baik spontan atau terstruktur.

Antri kereta bawah tanah di Osaka, Jepang. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

 Pengunjung Museum of Modern Art (MoMA) New York. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Pasar Ubud dengan kesibukannya. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Papan iklan yang atraktif terlihat kontras dengan pejalan kaki yang melintas tidak peduli di jalanan San Francisco. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Apapun dilakukan penumpang untuk membuang kejenuhan di bus kota di San Francisco. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Mengintip Sony A7S II & RX1R II dari 'Kegelapan'

Mengintip Sony A7S II & RX1R II dari 'Kegelapan'

Singapura - Sony membuat pesta di night club Pangaea, Marina Bay Sands, Singapura, Jumat (16/10/2015). Tak sekadar hura-hura, acara ini juga jadi tempat kelahiran mirrorless full frame Sony A7S mk II dan kamera kompak bersensor full frame Sony RX1R mk II. 

Tujuan Sony memilih interior yang gelap adalah supaya fotografer dan videografer dapat menguji Sony A7S mk II yang dioptimisasikan untuk digunakan di kondisi kurang cahaya.

Takashi Yasuda, General Manager divisi Digital Imaging Marketing Asia Tenggara menyampaikan bahwa jumlah pembeli kamera video dengan sensor besar dan lensa yang dapat ditukar meningkat tajam berkali-kali lipat dari tahun 2010 ke 2014. 

Di pasar kamera video profesional, market share kamera foto untuk video semacamnya juga sedang naik dan saat ini menyentuh angka 15%.



Selanjutnya, Sony memberi kejutan dengan kedatangan Takanori Muto, salah seorang insinyur yang mengembangkan sistem Sony E-mount sejak Sony NEX, yang mengenalkan kamera compact bersensor full frame Sony RX1 II. Takanori Muto menjelaskan kelebihan kamera ini yaitu pada lensa yang dirancang khusus untuk bisa optimal dengan sensor full frame, 42,4 MP, merupakan sensor yang digunakan di kamera Sony A7R II yang diumumkan beberapa bulan sebelumnya.

Selain lensa, Muto juga mengenalkan teknologi baru yaitu variable optical low-pass filter, dimana kini fotografer/videografer dapat memilih tingkat filter untuk mendapatkan ketajaman tertinggi, atau mencegah munculnya moire dengan meningkatkan efek filter low-pass/anti-alias.

Kavid Yan, Product Manager Sony menjelaskan keunggulan dan fitur baru Sony A7S mk II. Di antaranya stabilisasi gambar optik 5 poros di kamera, mampu merekam video 4K internal ke SD memory card dengan pembaca pixel penuh tanpa interpolasi di format full frame.



Termasuk peningkatan fungsi pengambilan video profesional seperti S-Gamut3.Cine/S-Log3 yang bisa diaktifkan mulai dari ISO 1.600, Gamma Assist Display terbaru, peningkatan kualitas Zebra Function, perekam Full HD 120fps slow motion 4-5X dan kecepatan AF yang ditingkatkan dan area fokusnya diperbanyak hingga 169 area dibandingkan 25 area di Sony A7S generasi pertama serta kualitas viewfinder yang lebih besar dan jelas karena dilengkapi dengan Zeiss T* coating.

Videografer dari Banana Mana Film, Mayad Academy dan fotografer pro Sony asal Singapura, Bryan Van der Beek, ikut berbagi pengalamannya saat mengunakan kamera A7S II. 

Pada intinya, mereka memuji kehandalan kamera ini di kondisi yang kurang cahaya dan fungsi stabilizer yang handal saat merekam foto maupun video.



Videografer Benny Kahardianto, Upi Guava dan Anggun Adi (Goenrock) dari Indonesia juga hadir dalam launching ini. Om Benny menyampaikan bahwa 5 axis stabilization di A7S akan sangat membantu dalam merekam video yang stabil tanpa monopod/tripod. 

Bahkan kestabilan videonya juga lumayan saat videografernya berjalan, asalkan videografer tersebut mengenal dan berlatih dan mengenal perimeter kameranya dengan baik. Sementara Upi mengungkapkan bahwa semua peningkatan Sony A7S generasi kedua dari generasi pertama terpakai dan sangat berguna bagi videografer.

Menurut Hafiz Yenifi dari Sony Indonesia, harga dan ketersediaan dua kamera terbaru Sony ini di Indonesia belum ditentukan karena fluktuasi dolar yang masih belum stabil. Di Singapura, Sony A7S II dihargai 4.299 dolar Singapura untuk body only atau sekitar Rp 42 juta.